jump to navigation

Suara Hati Seekor Anak Babi 18 Januari 2010

Posted by selamatkanbumikita in Puisi.
trackback

Suara Hati Seekor Anak Babi

Di hari aku berjumpa pertama kali denganmu
Adalah hari aku dilahirkan.
Merah muda dan bulat, oh aku amat montok
Bersama Ibuku aku bersenda-gurau dengan ria.

Dengan penuh cinta kau memandangku
Sembari memuji, “Oh bulat benar kau ini, alangkah manisnya!”
Tiap hari kau mampir bertandang
Mengantarkan air segar dan suguhan vegetarian yang lezat.

Ibu dan diriku amat tersentuh
Kebaikan hatimu melebihi nilai emas.
Aku menjalani hidup yang damai
Di bawah pemeliharaan dan perlindunganmu
Bertambah makin montok seiring berlalunya hari
Hanya makan, istirahat, dan bermain saja…

Indah sekali pagi ini
Di kala awan-awan melayang melintasi cakrawala,
Aku dan Ibuku berdekapan erat
Tak menyadari tragedi yang akan menimpa!

Dua pemuda kekar
Kuat laksana macan dan gajah
Melumatkan tubuh mungilku
Melesak ke dalam kurungan teror!

Tak ada jalan lain untuk melarikan diri!
Ya Tuhan, api penyucian apakah ini?
Aku meratap ngeri dan ketakutan
Ibu, oh Ibu, tolong selamatkan aku!

Oh pemeliharaku, tolong datang lindungi aku cepat!
Selamatkan nyawaku, aku masih kecil!
Ibuku menjerit-jerit sedih
Air mata keputusasaan menyesakkan matanya.

Surga yang maha luas tak dapat menampung
Derita rasa yang tak tertanggungkan ini!
Pemilikku berpaling dariku
Tangannya sibuk menghitung setumpuk uang.

Dengan malang aku terguncang-guncang dalam muatan barang di mobil
Hati yang hancur lebih menyakitkan daripada kesengsaraan fisik!
Dua pemuda itu berkelakar:
“Anak babi ini rasanya akan enak sekali!

Besok kita akan menyembelihnya
‘Tuk merayakan kelahiran bayi sang istri!”
Oh, betapa ironisnya hidup ini!
Jiwaku hancur lebur,
Air mata bercucuran di dalam hatiku
Bagai darah yang mengalir di dalam anak sungai.

Aku kira kau menyayangiku
Memeliharaku hingga besar
Tetapi semua ini ternyata pura-pura belaka.

Bagimu, ini hanya soal laba dan untung!
Esok hari tubuhku akan dicincang
Daging dan tulangku betul-betul teraniaya
Demikian ini orang bisa tertawa bersuka-ria
Dalam pesta pora dan pertemuan suka cita mereka

Untuk anak-anakmu dan yang lainnya jua
Aku berharap semuanya berumur panjang
Agar keluarga bisa berkumpul bersama
Tak memikul nasib seperti diriku…

Aku berdoa seluruh keluarga hidup mulia
Menjadi manusia dalam banyak masa kehidupan
Dan tak pernah dilahirkan sebagai babi
Yang selalu membayar hutang karma!

Aduh, selamat tinggal kehidupan…
Aku rindu akan ibuku yang lemah-lembut, namun menderita.
Aku hapus dengan tangisan…
Oh, Ibu! Ibu…Ibu…

Supreme Master Ching Hai

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: